Kita kehabisan tema untuk membincangkan kampung-kota. Pemberhentian terakhir adalah kampung tematik atau menjadikan kampung-kampung di kota adalah kampung wisata. Penentuan tema kampung menjadi kampung tematik itu puncak kecapekan memikirkan kampung? Lho. Tema kampung dan kampung tematik itu berbeda! Kita saja usil teringat dengan pelajaran mengarang di bahasa Indonesia” “Tentukan tema!” Kita belum selesai mengerti tema. Eh, kita diajak berpikiran kampung tematik. Tema dan tematik?

Tema kampung itu besar dan penting di buku berjudul Meniti Arus Lokal-Global: Jejaring Budaya Kampung dengan (2018) editor Melani Budianta dan Dhita Hapsarini. Sekapur sirih di buku: “Penyusunan buku ini bermula dari sebuah perjumpaan dan proses panjang saling silang gagasan antara akademikus, pegiat seni budaya, dan pendamping masyarakat. Mereka disatukan oleh kepedulian dan gairah untuk mewujudkan komunitas desa dan kampung yang mandiri dan berlingkungan asri, dengan identitas berbasis pada sumber daya kultural.” Mata kita masih terbukan dan awal. Di situ, kita tak pernah membaca ada kata “wisata”. Absen! Kampung belum ditemakan wisata.

Kritikus sastra di Universitas Indonesia dan pemerhati kampung bernama Melani Budianta terang menulis: “Jika modernitas kolonial meletakkan desa dan kampung sebagai sumber masalah, kekumuhan dan penyakit, gerakan budaya kampung yang dibahas di buku ini menunjukkan perspektif yang berkebalikan. Desa dan kampung memberikan solusi terhadap penyakit orang kota.” Oh, kemungkinan makna bijak peran kampung.  Ingat, kita belum membaca ada “wisata” di situ. Masih absen! Perbincangan kampung bergerak lambat saja dan beragam, tak perlu cepat-cepat dan memusat pada kata paling menggelikan: “wisata.”

Kita membaca buku pelan-pelan, sejak halaman awal sampai akhir. Bertemulah pembaca dengan wisata. Tulisan berjudul “Belajar dari Kampung Temenggungan” oleh Bachtiar Djanan M dan Tri Andri Marjanto mempertemukan kita dengan kampung dan wisata menjadi kampung wisata. Oh, ada! Kampung Temenggungan berada di Banyuwangi, Jawa Timur, terletak di “jantung” kota.

Kampung lama dibiarkan telantar mulai bernasib beda. Kita mengutip: “Selain itu, karena tidak terlalu ‘terjamah’ orang dari luar kampung, masih banyak rumah kuno berusia lebih dari 100 tahun yang bisa dijumpai di sudut-sudut kampung, baik yang berarsitektur kolonial Belanda, rumah-rumah ‘jengki’ era peralihan pascakemerdekaan, dan rumah-rumah Osing kuno dari kayu yang utuh, walaupun banyak yang kurang terawat.” Ah, pembaca ingin dolan ke Kampung Tumenggungan untuk melihat dan meraba sejarah di sana. Bersabarlah. Tulisan masih panjang.

Pada suatu hari, 2016, di sana diadakan Festival Kampung Temenggungan. Festival dihadiri para seninam dari pelbagai daerah. Selama festival, orang-orang menonton musik patrol, gamelan anak-anak, kesenoan barong Osing, pencak silat, dan lain-lain. Makanan dan minuman tentu ada di situ.  Eh, sekian seniman asing asal Australia, Prancis, Inggirs, Amerika, dan lain-lain turut terlibat di festival.

Nah, kita mulai bertemu wisata atau kampung wisata, setelah kampung itu moncer di pemberitaan, omongan, dan media sosial. Pengutipan: “Seiring dengan maraknya aktivitas kesenian di Kampung Temenggungan, lembaga Kawitan dan Hidora mulai merencanakan pengembangan paket wisata Kampung Temenggungan. Dirancanglah bentuk pertunjukan seni budaya sederhana yang bisa ditawarkan kepada wisatawan sebagai paket wisata dengan materi berupa potensi kesenian yang sudah ada.” Kampung pun wisata. Pembaca jangan terkejut. Kalem saja dengan kampung wisata. Kini, kampung wisata itu lazim banget di pelbagai daerah. Bersemi setiap hari! Di tiap kampung, nasib dab makna sering berbeda. Kita jangan gampang sinis atau terlalu memuji.

Buku itu masih hangat untuk dibaca sambil menikmati tajuk rencana di Suara Merdeka, 30 April 2019. Tulisan dijuduli “Mengembangkan Wisata Kampung Tematik.” Bacaan menjelang peringatan Hari Buruh, hari bertanggal merah alias libur. Pada hari libur, kita mau pelesiran atau tidur. Bacalah dulu tulisan di Suara Merdeka, sebelum membuat keputusan. Pembaca sudah diajak serius di awal: “Upaya Pemerintah Kota Semarang untuk terus menggalakkan kemajuan pariwisata sungguh perlu diapresiasi. Sinergitas yang baik antara pemkot, swasta, dan masyarakat yang selama ini terjalin juga harus ditingkatkan. Dengan demikian, pengembangan pariwisata di Semarang, termasuk mengembangkan kampung tematik, akan melibatkan dan memberi manfaat bagi banyak pihak. Tak hanya pemerintah, tetapi terutama masyarakat di sekitar lokasi objek wisata tersebut.” Berpikirlah baik dengan dua kata kunci: “sungguh” dan “manfaat”. Pilihan kata di alinea itu semua demi kebaikan bersama, terlarang ada diksi-diksi menjungkalkan nasib kampung atau meremehkan peran pemerintah. Serba apik! Terpujilah kampung wisata!

Kerja besar itu menantikan peran besar dari PKK. Oh, ibu-ibu di PKK. Di 177 kampung tematik “harus” diwisatakan, peran para kader PKK dinantikan demi sukses. Pemberian semangat: “Peran para kader ini akan membuka peluang usaha yang melibatkan semua pihak dan lapisan masyarakat, termasuk perempuan atau para kader PKK sendiri. Peluang usaha itu di antaranya jasa pemandu wisata, usaha kuliner, oleh-oleh, usaha kreatif seperti kerajinan tangan, dan atraksi wisata. Bagaimanapun wisata dinamis yang melibatkan masyarakat sangat dibutuhkan.” Pembaca sudah mengerti? Apakah perlu melanjutka membaca sampai selesai demi berurusan tema kampung berupa kampung tematik?

Kita berada di abad XXI dengan pengertian-pengertian baru tapi masih mendapat warisan dari lama. Pembaca merasa kembali ke masa lalu dalam memberi penilaian atas peran PKK. Sekian orang masih mengenang PKK dengan instruksi-instruksi rezim Orde Baru. Eh, PKK sekarang sudah berubah. Peran mereka sudah semakin besar dan berdampak besar. Mereka dinantikan berkiprah di gairah kampung wisata. Oh, kampung tematik!

Pesan harus dicamkan pemerintah: “Selain itu, perlu dipikirkan juga adalah kelangsungan pariwisata kampung tematik ini. Perlu dipersiapkan marketing yang berkelanjutan, supaya bisa terus-menerus menjadi andalan. Pemkot perlu mengetahui batas kreativitas para warga di suatu kampung….” Kita menganggap tajuk rencana ini bacaan berat, sebelum kita berlibur untuk menghormati kaum buruh. Bacaan tak salah waktu tapi membuat kita berpikiran terlalu besar.

Kita susulkan ingatan masa lalu saja. Di buku berjudul Riwayat Semarang (1931) dicetak ulang (2004) susunan Liem Thian Joe, kita membaca petikan berkaitan kampung-kampung di Semarang, 1906: “Dulu Bojong bukan sebuah wijk (kampung) perdagangan, tetapi sebuah patricers-wijk (tempat tinggal penduduk ternama) dengan gedung-gedung yang besar dan pekarangan-pekarangan yang luas, ditanami pepohonan. Hotel du Pavillon dulu sebagai sebuah rumah tinggal yang besar serta aman, tidak seperti sebuah hotel di kota besar seperti sekarang ini.” Oh, ada sejarah belum tentu cocok dibaca lagi berbarengan ada agenda besar kampung-kampung tematik di Semarang berkata kunci wisata. Begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s